Bahari Dua – Dalam rangka mempercepat penurunan angka stunting secara terintegrasi, Pemerintah Desa (Pemdes) Bahari Dua menggelar kegiatan Musyawarah Desa Rembuk Stunting. Kegiatan yang berlangsung partisipatif ini difokuskan pada pembahasan strategi konvergensi percepatan pencegahan stunting di wilayah Desa Bahari Dua untuk tahun 2026.

Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 13 Juli 2026 di gedung serbaguna desa Bahari Dua. Acara ini dihadiri oleh jajaran pemangku kepentingan yang memiliki peran krusial dalam pembangunan dan kesehatan desa, di antaranya Penjabat (Pj.) Kepala Desa Bahari Dua, Mulyani Duma, SKM., Ketua BPD, Darson, S.Pd., serta aparat keamanan dari unsur Babinsa dan Bhabinkamtibmas setempat.
Turut mengawal jalannya musyawarah, hadir pula Tim Pendamping Profesional Kabupaten Buton Selatan, Pendamping Desa Kecamatan, Ilias, dan Kader Pembangunan Manusia (KPM) Desa Bahari Dua, Nova Rahman.
Laporan Kondisi Gizi dan Kesehatan Warga
Musyawarah dibuka dengan pemaparan data faktual di lapangan. KPM Desa Bahari Dua, Nova Rahman, melaporkan secara komprehensif mengenai peta kondisi kesehatan dan gizi masyarakat saat ini.
Fokus laporan tersebut mencakup pemantauan status gizi balita, kesiapan kesehatan calon pengantin, serta pendampingan terhadap ibu hamil yang berisiko mengalami Kekurangan Energi Kronis (KEK) di lingkungan Desa Bahari Dua. Data ini menjadi acuan utama bagi peserta musyawarah dalam merumuskan langkah intervensi.

Aspirasi dan Usulan Warga dalam Diskusi
Sesi rembuk berjalan sangat interaktif. Berbagai elemen masyarakat dan tokoh desa turut menyuarakan gagasan serta usulan konkret untuk menekan angka stunting, di antaranya:
- Parabela Wapulaka: Menekankan pentingnya edukasi di tingkat keluarga. Ia mengusulkan agar pemerintah desa menggencarkan sosialisasi kepada para orang tua terkait standar dan jenis makanan bergizi yang harus dikonsumsi oleh anak.
- Tajudin B, S.Pd. (Tokoh Pendidikan): Mengusulkan dua langkah strategis, yaitu pengadaan penyuluhan khusus bagi ibu-ibu mengenai asupan makanan sehat, serta mendorong gerakan aksi Tanam Daun Kelor di setiap pekarangan rumah warga sebagai sumber gizi alternatif yang murah dan kaya manfaat.
- Perwakilan PKK Desa Bahari Dua: Menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor. PKK mendorong adanya kerja sama yang lebih kuat antar pihak terkait dalam penanganan anak stunting. Ditegaskan pula bahwa sosialisasi dan beban penanganan tidak boleh hanya bertumpu pada para kader, tetapi harus menyasar dan melibatkan langsung para orang tua anak.
Dengan terselenggaranya Rembuk Stunting ini, seluruh aspirasi dan usulan yang lahir dari diskusi masyarakat akan ditampung dan diintegrasikan ke dalam Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes) Bahari Dua. Sinergi yang kuat antara pemerintah desa, kader kesehatan, tokoh masyarakat, dan warga diharapkan mampu mewujudkan generasi Desa Bahari Dua yang sehat dan bebas stunting di masa mendatang.